Cerita Ibu · Cerita Parenting

Which One Feed-The-Baby-Technic That Fit to Your Baby?


Hai, ibu-ibu yang mungkin sedang bingung memilih teknik terbaik untuk anaknya yang memulai makan. Saya mau share sedikit pengalaman saya. Berangkat dari trauma saya waktu kecil dulu pada makanan. Yes! Saya sempat trauma pada makan, dan rasanya baru sembuh dari trauma itu saat kuliah *face palm* Lama sekali ya!

Bayangin dong, kuliah itu sekitar umur 18 ya, dan saya baru merasa enjoy makan pas kuliah (selama 18 tahun ngapain aja buuk?). Masih males-malesan sih (sampe sekarang juga masih kalau itu haha), tapi seingat saya udah happy saat waktu makan tiba! Nggak seperti jaman TK, SD – SMA, yang sebenarnya sungguh baik sekali niat orang tua membuat anak-anaknya bergizi dan sehat, sehingga menjadi semangat untuk beraktivitas. Tapi pengalaman makan tersebut berbekas dan agak menjadi momok yang menakutkan untuk saya pribadi. Harus makan dalam jumlah tertentu (which is harus makan banyak), jenis tertentu, dan dilakukan dalam kondisi terburu-buru. Kalau diingat-ingat masih agak nyes di hati (red: trauma masih berbekas #tsaelah)😀

Ketakutan saya akan membuat trauma itu kepada Sheva, Baby-led Weaning menjadi pilihan terbaik menurut saya untuk diberikan ke anak.. Sebuah teknik memberi makan pada anak dengan menekankan pada kebebasan dan naluri anak itu sendiri. Tugas orang tua dengan teknik ini adalah menawarkan sebanyak-banyaknya jenis makanan, tanpa mengharapkan jumlah yang banyak, dengan suasana happy, dan tidak diburu-buru.

Menurut pandangan saya saat itu: spoon-feeding itu jadi benar-benar menyeramkan.

That’s why saya anti sekali dengan spoon-feeding… saat itu.

Tapi nyatanya sekarang ini, kondisi Sheva menyadarkan saya tentang: apapun teori/tekniknya, lihat dulu anaknya.

Jleb moment kembali. Haha. Seperti di postingan saya sebelumnya, ucapan dokter Tiwi ‘menampar pipi’ saya keras sekali. “Boleh ASI 2 tahun, ketika anak BB-nya tercukupi… kalau belum tercukupi, dicukupi dulu, dicari masalahnya.. baru lanjutkan ASI (jika belum terlambat ya).”

Begitupun dengan BLW. Ini tips buat siapa saja yang mungkin masih mencari-cari tentang ilmu BLW, atau per-MPASI-an. Buat saya juga untuk pengalaman memberikan MPASI kembali kelak.

  • Boleh BLW, tapi dilihat dulu tumbuh kembang (BB, TB, lingkar kepala) bayi.
  • Jika tidak mencukupi tumbuh kembangnya, berikan spoon feeding saja. IN A FUN WAY, ya! Duh ini penting banget ya buibu… ternyata spoon feeding juga dapat diberikan ala BLW, dalam arti: menyenangkan, mengikuti kemauan anak, mengikuti nafsu makan anak.
  • Jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda nggak mau, cukup, berhentikan makannya. Lakukan kembali 2 jam kemudian.
  • Anyway, penting untuk diketahui juga, nafsu makan anak itu naik turun. Jika sedang naik, bisa diberikan makanan berkalori tinggi untuk menutupi kesempatan makan yang hilang saat nafsu makan anak turun.
  • BLW dapat digantikan dengan finger food sebagai snack/sensory play!

Ada pengalaman sama, buibu?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s