Cerita Ibu · Cerita Sheva

Kisah Penyapihan Sheva 15 Bulan


Sejak mengetahui baiknya kandungan ASI yang kubaca dari berbagai sumber, sungguh harapanku (selama aku mampu, dan selama ASI ini masih keluar) Sheva dapat lulus S3 ASI, alias disusui selama 2 tahun penuh. Tapi ternyata harapan ini kandas di usia Sheva 15 bulan. Kenapa?

Memang sejak 6-7 bulan, BB Sheva susah banget naiknya. 100 gram aja udah bagus banget. Beberapa bulan malah nggak naik. Tapi alhamdulillah-nya Sheva sehat. Pilek-flu jarang banget, hanya sempat flu singapur dan roseolla saja yang agak parah. Selain itu alhamdulillah Alloh paring kesehatan untuknya.

img_20161018_124807-01

Di mata orang lain, Sheva terlihat kecil. Apalagi Uti dan Akung Sheva yang rewel bener, lihat Sheva yang kok-gak-gede-gede-sih-badannya. Ujung-ujungnya mempertanyakan ASI aku, yang ada-isinya-gak-sih; apalagi badanku yang nggak gemuk2 saat menyusui ini. Malah makin kurus -_-

Konsultasi ke dokter Novi, dokter anak setelah Sheva lahir, alhamdulillah dokter Novi pro ASI dan nggak buru2 kasih sufor, which is idaman banget buat ibu2 baru yang terdoktrin-ASI-wajib-dua-tahun kayak aku gini. Kenapa aku highlight banget kata di atas? Penjelasan di bawah ya :’)

Saran dokter waktu itu cek BAK Sheva, sekitar 10-12x sehari. Cara ceknya bayi jangan dipakein pampers, setiap BAK langsung dicatat. Kalau BAK kurang dari 10-12x sehari, berarti ASI-nya kurang. Kemudian jumlah ASI juga diperiksa dengan cara: perah ASI dalam 30 menit, diulangi beberapa jam kemudian lagi selama satu-dua hari. Hasil perahan itu mengindikasikan berapa banyak si bayi dapet ASI dalam sekali minum.

Setelah dicek, alhamdulillah saran dokter lanjut aja ASInya. No sufor, tapi setelah MPASI, Sheva disarankan boost BB dengan santan daging keju minyak, dll. Dengan tetap ASI.

Nah, disini ini yang setelah kupikir-pikir sekarang, Sheva butuh boost BB dengan sufor atau ibuknya ini minum/makan sesuatu untuk boost ASI *face palm*

Karena kekeuh dengan program ASI 2 tahun ini, pikiranku pokoknya positive thinking aja ASInya cukup untuk Sheva. Walaupun memang makannya Sheva juga aduuuuh bangett, I don’t even wanna think to give Sheva any other milk than ASI. Mikirin aja nggak mau, apalagi ngasihnya kan?

Sampai akhirnya, ketakutan ini melanda jiwa😥 Melihat Sheva yang, ya bener, kecil. Bahkan lebih kecil dibandingkan temannya yang lahir satu bulan belakangan. Aku merasa, oke, ini saatnya gue butuh bantuan. (Setelah berbulan-bulan dicerewetin Uti dan Akung, saranin ke dokter lain lah, cek lab lah, dll; karena pengalamannya dulu yang serupa.)

Datanglah aku ke dokter Tiwi, dokter spesialis anak yang videonya banyak sekali beredar di Youtube. Kebetulan rumah dokter dekat sekali dari rumah, di River Park Bintaro Sektor 7. Rekomendasi teman juga oke. Dengan niat pasrah (yang selama ini defensif banget deh kalau ada yang komentar tentang caraku meramut Sheva), jujur SEKARANG INI aku pasraaaah banget, bener-bener merasa butuh ditolong. Bertekad untuk melaksanakan segala saran dokter, dan…. Bang!

Tepat sasaran banget. Dari segala gundah gulana di atas perihal ASI dan BB Sheva. Dokter bilang begini, “sukseskan anaknya dong! Jangan sukseskan programnya aja! ASI 2 tahun tapi kalau BB-nya begini ya salah juga…Mak jleb!!!
Ya udah, sekarang lepas aja ASI-nya. Ditelatenin pediasur* nya, pokoknya kejar BB-nya. Walaupun udah terlambat, tapi batasnya 2 tahun! Bisa! Tapi harus telaten banget. Lewat 2 tahun, lebih susah lagi.

Yang makjleb lagi, “ini emang banyak nih ibu2 begini, pinginnya ASI tapi nggak lihat anaknya. Kalau ASI terus tapi anaknya badannya jadi, monggo silakan lanjutin….” <—- jawaban dari highlight  di atas.

Wah dokter…. :'(:'(:'(:'( Oya, sebulan sebelumnya, sebelum ke dokter Tiwi, Sheva kubawa kontrol ke dokter Novi seperti biasa. Dan dokter Novi udah bilang juga Sheva gagal tumbuh. Huft. Sedih banget gak siih.
Dan udah dibikinin jadwal makan dan minum susu Pediasur* nya selama seharian penuh. Target susunya 750ml sehari, ASI-nya hanya siang/malam kalau mau tidur aja. Selain itu nggak boleh. Selain itu, Bulek dari suami juga cerita tentang pengalaman Bima, cucunya, yang sama seperti Sheva awalnya. Kecil, begitu dilepas ASI-nya langsung jadi badannya.

Seriously? Aku benar2 bingung saat itu, kenapa ASI yang kandungannya luar biasa malah membuat begini. Mungkin kalau dijabarin banyak ya variabelnya. Mungkin banyak variabel itu muncul di kasus Sheva ini. Hiks. I still don’t wanna believe it though. Jadi ikutin saran dokter Novi dan Bulek setengah2. Ya pediasur* masuk, tapi ASI teteuuup lanjut.

Tapi pas dokter Tiwi bilang begitu…. Karena niatnya udah pasrah dan ikut apa aja kata dokter, cos I really wanted a help so so bad. Dengan berat hati, kusapihlah Sheva.

Awalnya sediih, liat Sheva yang nangis2 minta ASI. Apalagi kalau mau tidur. Nggak tega banget. Ku elus2, peluk, sambil diceritain “walaupun nggak nenen, ibu tetep disini Sheva… Ibu peluk sheva terus ya.” Wah awalnya ditolak banget. Dan penting banget nih, untuk tau resiko menyapih lain untuk sang ibu. PD sakit beraatt!! PD penuh! Sakit, karena ada susu yang menggumpal karena nggak dikeluarin ya. Selama 3 hari, perih banget. Kesenggol aja masya Alloh rasanyaa…

Tapi ternyata, alhamdulillah, lewat 3 hari… Sheva bisa bobok sendiri :’))) nggak nyari ASI, which is amazing bangetttt!! Entah ini relevan atau engga ya sama proses penyapihannya, tapi Sheva makin pinteer diajak ngobrol, makin ngerti untuk diarahin. Dan PD aku pun, setelah diperah sedikit demi sedikit plus kompres air dingin… Sekarang rasanya udah plong lagi.

Deep down here, aku masih sedih sebenernya. Berasa ASI udah nggak diperluin itu kayak: ada sesuatu yang tertinggal, yang seharusnya bisa diambil kembali, tapi HARUS dan WAJIB untuk ditinggal! Rasanya sayaang banget, ASI masih ada tapi nggak boleh dikasih ke anak lagi. Such a complex feeling I’ve ever felt.

Tapi, yah, demi progres yang kelihatan. Bismillaah… Semoga Alloh paring kelancaran kebarokahan dalam proses perbaikan gizi Sheva ini.

Saat ini kita udah cek lab Sheva dan udah ditelateni juga pemberian sufornya. Tinggal menunggu kontrol ke dokter Yoga, spesialis anak ahli gizi, untuk step selanjutnya. Doakan kami ya :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s