Cerita Ayah · Cerita Ibu · Cerita Sheva

Bawa Bayi Naik Pesawat


Yeay, akhirnya waktu untuk mudik datang juga! Setelah hampir 2 tahun nggak bisa mudik, dan berencana untuk nggak mudik juga tahun ini karena sesuatu dan lain hal. Tapi alhamdulillah, diqodar Alloh untuk bisa pulkam juga 2016 ini🙂 Eh tapi, pulkam kali ini bawa bayik! Which is, keribetannya bisa nambah berkali-kali lipat!
image

Pilihan Moda Transportasi
Setelah berpikir masak-masak, dan menyesuaikan dengan segala situasi dan kondisi yang akan berlangsung, kami pilih moda pesawat untuk transportasi pulang pergi mudik kali ini. Keunggulannya adalah waktu perjalanan yang singkat banget. Kalau dihitung dari rumah di Bintaro, ke Bandara Soekarno-Hatta hingga Bandara Adi Soemarmo (Solo City) sampai tiba di Klaten (tempat tujuan keberangkatan kami), hanya menghabiskan waktu 4-5 jam saja, dengan waktu perjalanan di pesawat hanya 56 menit.

Sedangkan jika memilih moda transportasi lain, seperti bus atau kereta, bisa menghabiskan waktu semalaman (sekitar 12 jam) perjalanan. Tapi keunggulannya, bisa berhemat biaya sih!😀 Mungkin untuk kereta api, biayanya nggak jauh beda ya dengan pesawat… Apalagi jika memilih kelas bisnis, kenyamanannya akan sama dengan kelas ekonomi pesawat. Oh ya, kami memilih Garuda Indonesia sebagai maskapai perjalanan kami kali ini. Berbekal googling Garuda Indonesia merupakan salah satu maskapai yang paling ramah infant. Apakah benar?

Persiapan Keberangkatan
Saatnya mengemas! Satu hal lagi keunggulan naik pesawat adalah barang bawaan yang dapat ditaruh di bagasi dan kabin pesawat. Koper yang berat dapat ditaruh di bagasi, sedangkan pernak-pernik dan kebutuhan saat di pesawat yang lebih ringan dimasukkan ke tas yang lebih kecil.

Mengemas pakaian ke koper untuk mudik kali ini juga beda. Biasanya kami berdua (aku dan suami) hanya butuh 1 koper saja untuk pakaian dan lain-lainnya, itupun nggak penuh-penuh banget. Sekarang, oh, 1 koper hanya untuk pakaian ibu dan Sheva! Itu juga dimuat-muatin 😂 Ayah terpaksa pakai tas lain.

Oke, koper done! sekarang tas tangan alias tas untuk dibawa masuk ke kabin. Beberapa hal yang kusiapkan untuk masuk kabin:
1. Pampers 2 buah
2. Lap makan/minum 2-3 buah
3. Tissue basah dan tissue kering
4. Baju dan celana ganti 2 pasang
5. Biskuit bayi, dan keju untuk cemilan Sheva; berfungsi juga untuk menghilangkan efek dari tekanan rendah ke tinggi, alternatif gerakan menelan yang lain seperti menyusui, ataupun memakai earmuff. (Hampir saja menyewa/membeli earmuff, tapi berhubung Sheva sudah bukan bayi yang manut wae, bawaannya udab risih banget kalau dipakein hijab/bandana di kepalanya hahaha).
6. Botol bayi 4 buah, isi air putih, susu (Sheva udah aku minumin susu kedelai bubuk for baby) yang sudah dicairkan dan yang belum. 1 botol lagi untuk cadangan. Dan semuanya kuisi kurang lebih 100-150 ml air. ~Note: sebenernya nggak perlu takut untuk bawa air yang lebih banyak ke kabin. Karena ada peraturan khusus untuk ibu yang membawa bayi, boleh membawa makanan/minuman bayi dalam bentuk cair. Dan nggak perlu takut kekurangan air juga, karena kita boleh minta ke petugas di kabin nantinya. Apalagi untuk perjalanan yang lebih dari 1 jam, akan merepotkan kalau terlalu banyak membawa air. Secukupnya saja untuk saat menunggu pesawat/boarding, supaya anak tidak kehausan. Kalau masih ASI ekslusif sih bawa air untuk ibunya saja~😉
7. Mainan bayi; Sheva kubawain busy book pesan ke teman, yang isi bukunya bisa jadi bahan kulik-kulik Sheva di pesawat (yang kuharapkan bikin Sheva diam anteng dan tenang 😂).
8. Stroller;

Berangkat!!
Keberangkatan dimulai dengan menggunakan taksi ke bandara. Di taksi, Sheva udah agak nggak tenang duduk dipangku sebenarnya. Entah mengantuk, atau memang sudah nggak tahan untuk duduk–maunya berdiri. Tapi setelah disusuin, Alhamdulillah terlelap sebentar sebelum akhirnya sampai di bandara. Setelah di bandara, kami bergegas check in kemudian barulah kami makan siang di A*W, pilihan makan siang yang cepat dan praktis. Sheva pun bisa sambil kami suapi. Setelah makan siang, kami segera ke ruang tunggu untuk menunggu saatnya boarding. Sheva nggak bobok btw. Waktu boarding kami menunjukkan sekitar 1 jam lagi, jadi aku dan suami menyegerakan untuk gantian sholat Dzuhur & Ashar. Mungkin karena kehadiran bayi juga ya, rasanya waktu berjalan cepat sekali. Setelah giliranku selesai sholat, kembali ke ruang tunggu, penumpang lain sudah siap di antriannya masing-masing untuk masuk pesawat. Wah, aku agak panik. Akhirnya… Aaa! Bawa Sheva naik pesawat, deg2annya mulai berasa banget 😂

Di dalam Pesawat (1)
Ayah Sheva memilihkan kursi kami di nomor 30an, lupa tepatnya berapa. Tapi salah satu alasannya adalah jika Sheva harus berganti pakaian atau popoknya, atau jika rewel, kami cepat dapat ke belakang (toilet). Dan aku juga minta untuk ditempatkan di samping lorong (yang segera aku sesali), pikirku juga kalau Sheva rewel aku bisa mondar-mandir di lorong untuk menenangkan Sheva.

Ternyata Sheva bener rewel di perjalanan. Mungkin dari akunya juga ya, agak panik. Jadi anaknya juga berasa. Pokoknya nggak betah aja gitu Sheva. Posisinya serba salah. Didudukin, badannya diregangin seperti mau berdiri. Diberdirikan, ngelonjak-lonjak anaknya. Dinenenin, badannya juga diregangin. Dan, akhirnya nangis.

Kami pikir, Sheva nggak betah dengan kupingnya karena perbedaan dengan tekanan di darat. Potongan keju sudah siap kami berikan ke Sheva saat pesawat take off. Eh, masih rewel juga. Oke, jurus menyanyikan lagu anak kemudian kami keluarkan. Kebetulan saat itu, ia baru bisa mengucapkan “Dar!” saat lagu “Balonku ada lima” dinyanyikan. Untuk beberapa saat, jurus ini ampuh mengembalikan senyumnya. Tapi beberapa waktu kemudian rewel kembali 😂

Poin utama hal yang kusesali dari kerewelan Sheva selama keberangkatan ke Solo, Posisi duduk dekat lorong membuat:
1. Menyusui jadi nggak nyaman! Karena terlihat dari 3 bagian penumpang sebelah lorong, sebelah persis, belakang dan depannya. Apalagi ketika bayi rewel, beuh! Semua mata memandang!!
2. Ternyata pribadi aku nggak pede juga menenangkan bayi sambil berjalan di lorong! Haha! Niatnya bisa sambil jalan-jalan, tapi ratusan pandangan mata lainnya pasti akan mengintai dan mengamati, kan? Mungkin karena perjalanan yang terbilang singjat ya, hanya 56 menit. Jadi nggak perlu-perlu amat untuk berjalan di lorong 😂
3. Dan lorong adalah tempat pramugari lalu-lalang memberikan penganan untuk penumpang. Dengan jadwal kru Garuda memberikan penganan dua kali, sudah dipastikan, nggak perlu berjalan di lorong untuk menenangkan bayi! Crowded banget. Nggak akan bisa lewat juga.

Akhirnya sampailah kami di bandara Adi Soemarmo, Solo, dengan penuh peluh dan keringat. Tapi ada yang menyembuhkan hati kami saat itu, sebelum turun dari pesawat, pramugari-pramugari Garuda menyapa kami dengan ramahnya. Bahkan memberikan kami diaper kit, plus 1 souvenir untuk bayi berupa boneka gajah! Senyum pun terkembang, puasnya kami naik Garuda karena keramahannya yang tak terlupakan. Oh ya! Jarak antara tempat duduk depan dan belakang Garuda t.o.p banget, luasnya pas untuk membawa bayi🙂

Satu catatan lagi, bandara Adi Soemarmo, Solo, juga memiliki tempat untuk mengganti popok bayi ya! Walaupun lokasinya terbuka, tapi kalau lagi sepi lumayan nyaman juga 👍

Pulang Kembali Ke Jakarta
Waktunya pulang, setelah seminggu berada di Jatiyoso🙂 Duh, mepet banget yaaa ini berangkat ke bandaranya! Please deh, ayah, nyantai banget. Seharusnya bisa berangkat lebih awal, secara saat kami pulang (Sabtu) masih merupakan waktunya orang libur panjang! Which is Solo kota favorit sebagai tujuan liburan kan, dan memang macet pas sampai di Solo-nya! Ayah nyantai banget, “tenang aja kita ditungguin kok sama pesawatnya” #HUFT

Bukan masalah ditinggalnya sih, eh ya itu masalah juga sih, tapi kalau mepet tuh jadi nggak tenang! Bawaannya panik dan buru-buru. Dan lagi waktu liburan kita sudah mau habis, pinginnya agak lebih enjoy gitu loh di bandara nantinya. Tapi, aku mah apa atuh, cuma bisa to’at 😂 Masukan aku nggak digubris, hahaha. Jadi bener deh keburu-buru banget. Sampai bandara Maghrib, dan Oh ya! kalau mepet nih ya, biasanya ada kejadian yang bikin makin mepet lagi. Ada kejadian gak terduga yang agak bikin kesel haha. Dan bener aja 😂😂 karena masalah jadwal penerbangan yang di-reschedule waktu check in kami kemarin jadi lama banget zzzzz. Alhamdulillah-nya Sheva anteng, aku tawarin cemilan terus. Ada stroller pula! Jadi sama sekali nggak capek gendong Sheva lama-lama. Saat menunggu check in yang lama, Sheva ngompol. Yang jarang-jarang terjadi banget 😓

Oke, beres dari mengganti popok Sheva kami sudah diperbolehkan untuk memasuki ruang tunggu. Ternyata masih ada waktu sekitar 20-30 menitan sebelum take off. Tadinya mau makan malam dulu, takut kelaparan di tengah jalan. Tapi takut nggak sempat, jadinya nge-teh Poci aja sambil nyemil kentang goreng. Cari menu yang Sheva juga bisa menikmati. Disini Sheva lebih agak anteng sih. Dan aku pun nggak se-deg2an waktu pertama kali naik pesawat bersama bayi seperti kemarin. Berasa deh kalau nggak panik, lebih nyaman hahaha.

Nggak berapa lama kemudian, kami dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Masih dengan Garuda. Lokasi duduk, bismillah aku minta duduk dekat jendela, dekat sayap pinta suami saat check in tadi. Oh, bersyukurnya aku! Penempatan ini nyaman sekali! Aku leluasa menyusui tanpa dipandangi oleh penumpang lainnya. Sheva pun bobok, nggak lama setelah duduk di pesawat! Alhamdulillah! Selama perjalanan kembali ke Jakarta, Sheva benar-benar terlelap dengan pulasnya. Mungkin karena sudah malam, memang waktunya ia tidur. Dan selama sepagian-sesiangan itu Sheva main terus dengan sepupu2nya, jadi otomatis badannya butuh di-recharge kembali dengan tidur.

Aku pun (akhirnya) dapat menikmati waktu di Garuda dengan santainya. Minum dan makan dengan santai, menonton sajian film dengan santainya, mengobrol dengan ayah Sheva dengan riangnya. Oh ya, ternyata kalau ibu sudah menggendong bayinya dengan carrier-nya sendiri, kru pesawat tak perlu menyediakan sabuk tambahan. Which is jauh lebih nyaman!

Sampai lah kami di Jakarta. Kali ini kami tidak diberikan diaper kit oleh Garuda, alih-alih hanya boneka saja. Tidak dapat pun tidak apa-apa sebenarnya. Daripada dapat, tetapi dibilang begini oleh si pramugari, “bu, ini kami berikan boneka karena sisa ya! Sebenarnya untuk bayi tidak dapat, hanya anak-anak saja!” 😑😑😑😑😑😑😑

Serius, kami rela kok nggak dapat apa-apa daripada dibilang begitu 😒 Well, kesimpulannya bawa bayi naik pesawat (Garuda) could be more fun if the baby sleeps, and the crew attendant shows us good hospitality! Nilainya 8/10 :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s