Uncategorized

Lunturnya Nikmat Pernikahan


Waktu awal-awal nikah dulu, jujur, jadi semangat banget ngomporin temen-temen yang belum nikah untuk nikah secepatnya. Dengan mengatakan,
“Nikah itu nikmatnya 1%, 99% sisanya…..
nikmat buanggeettt.”

Hehehe lebay yah.
Yah ternyata sebenernya nggak cuma aku aja yang berkata seperti itu. Rata-rata pengantin baru bakalan ngomong kayak gitu juga. Wkwkwk.

Tapi nyatanya setelah kujalani, dua bulan, lima bulan, setahun, setahun tujuh bulan… nikmat menikah itu semakin meluntur.

Nah lho? Kok bisa??

Ya bisa dong🙂
Loh kok tersenyum?
Kenapa sebahagia itu mengungkapkannya?

Jadi begini lho, hidup ini memang nggak bakal rata. Pasti bergejolak. Nyatanya nggak cuma orang jomblo aja yang bisa galau, orang nikah juga masih bisa galau. Bahkan bisa lebih galau lho.
Yang kualami ini, aku masih belum memiliki anak, kehidupan nikah masih dijalani berdua aja dengan suami. Pernikahan yg dijalani dari jarak jauh ini memang banyak dibilang seperti orang pacaran. Tapi yang kujalani ini kok tak seindah di film-film ya.. atau di drama romance itu. Atau juga tak seindah orang yang benar-benar hanya pacaran saja.

Kenyataannya aku merasakan perbedaan karakter antaraku dan suami yang semakin hari semakin menguat. Dilakukan dari jarak jauh pula. Ini nggak indah. Aku merasa terpuruk, bingung, apa yang harus kulakukan? Beginikah kehidupan menikah yang dulu sering kubaca dalam cerita ataupun artikel ditulis dengan puitis sekali sampai-sampai membuat terharu saat membacanya? Mengapa aku masih merasakan galau?
Mana nikmat 99%nya nikah di atas tadi itu?

Sungguh, aku merasakan lunturnya nikmat menikah itu..
di saat tidak bersyukur dan hanya menyalahkan keadaan.

Di saat rasa syukur ini menipis dan menipis, sungguh aku merasa tersiksa.

Rangkaian kata dan cerita indah mengenai pernikahan, menjadi hampa tak bermakna, tanpa adanya rasa syukur dalam menjalani pernikahan itu sendiri.

Memang nyatanya kehidupan menikah itu tidak seindah bayangan kita di awal pernikahan…. namun akan terasa jauh lebih indah jika kita bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah ini setiap harinya.

Sungguh, syukur itu sebuah kata kerja, yang memang benar-benar harus dikerjakan ‘tuk dapat menjalani serta merubah kondisi pernikahan menjadi semakin lebih baik. Di awali dengan bersyukur, kemudian diteruskan dengan tindakan-tindakan positif lainnya bersama pasangan membangun rumah tangga yang didoakan saat awal pernikahan; sakinnah, mawaddah, rohmah.

Inget dalil ini kan?
“Jika kamu bersyukur, niscaya Allah akan menambahnya.”

Seperti kata mas juga,
Nikmati aja semuanya, sayang. Biar kita jadi tenang dan enjoy.

Berasa banget ternyata.
Dan, yap, syukurnya nggak boleh hanya saat di pelaminan aja.
Tapi terus menerus hingga maut memisahkan.

image
A kiss for husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s