Uncategorized

Learn to Myself


Dapet sesuatu dari dorama “Machi Isha Jumbo” episode 3 nih :”))

Ep 3 Machi Isha Jumbo

***

Jumbo-sensei: “Perfect huh… you are completely wrong that you can do everything by yourself.”
The Wife: “My husband strained himself in order to not make me worry. It is my fault.
Jumbo-sensei: “That’s right! You are also to blame. You two are just trying to be nice to each other! ‘I don’t want to worry my wife’, ‘I believe in my husband’, those are just superficial things. You put everything in the open and help each other where you are lacking. Isn’t that what a husband and wife are supposed to be?

***

Episode 3 dari Machi Isha Jumbo ini bercerita tentang seorang suami yang merasa melakukan segalanya dengan sempurna, lulusan dari Universitas Tokyo, memiliki posisi penting di perusahaan, dan menjadi suami dari anak bos-nya yang cantik dan baik hati. Istrinya tersebut juga pinter masak dan selalu mengatakan hal yang baik-baik terhadap suami. Segalanya terlihat sempurna.

Tapi sebenarnya kedua pasangan tersebut nggak tau sama sekali keadaan masing-masing. Karena yang menjadi fokus dari episode ini adalah suaminya, jadi si istri nggak tau kalau suaminya sedang memaksakan dirinya untuk terlihat sehat. Padahal Jumbo-sensei sudah berkali-kali berkata ke suami bahwa dia nggak sehat. Dari kondisi fisiknya yang nggak sengaja diperiksa oleh Jumbo-sensei. Bener aja, si suami ketahuan punya Diabetes.
Secara maksa, suami itu minta insulin ke Jumbo-sensei tanpa mau diperiksa terlebih dahulu. Jelas aja dilarang. Usut punya usut, si suami secara cerdik mencuri insulin milik salah satu suster di klinik tersebut. Disuruh oleh Jumbo-sensei untuk mengakui kepada keluarga dan relasinya bahwa dia punya Diabetes, si suami menolak dan berkata, “Saya bisa berada di titik ini karena saya sudah melakukannya dengan sempurna sendiri. Saya tidak mau mengecewakan siapapun.”

Setelah dia mencuri itu dia menyuntikkan insulin itu sendiri, Jeng-jeng… Nggak lama kemudian dia pingsan saat sedang jamuan makan malam bersama para boss.

Yang pertama kali menolong ya Jumbo-sensei, karena dia yang paling mengetahui keadaan si suami. Dan Jumbo-sensei kemudian berkata seperti percakapan di atas. Itu semua akibat dia yang nggak bisa jujur kepada keluarga dan relasinya. Mementingkan pencitraan semata.

Ada juga scene dimana si suami lagi membuang bekal makanan yang udah dibuatin rapih oleh istrinya, cuma untuk membahagiakan hati istri biar terlihat sudah dimakan dengan lahap. Padahal suaminya lagi nggak nafsu makan.

Si suami nggak bisa jujur, si istri juga tidak peka.

Huwwah… feels so familiar. It turned out, it is bad to keep attitude like that huh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s