Uncategorized

Nomaden atau LDR?


Depresi LDR? Hmm nggak tuh.
Sempat tersentak dengan komentar adik ipar di salah satu gambar cover yang kubagikan di Facebook. Niatnya becanda sih, karena komentarku kepadanya sebelumnya mungkin terlihat nyentrik dan aneh untuk orang seukuran Mita Karima. Hihihi. Tapi jadinya kepikiran juga😀

Memang ngga pernah terpikir olehku untuk menjadi seorang istri dari abdi negara, alias pegawai negeri sipil (PNS). Walaupun memang banyak wanita sepantaranku bercita-cita menjadi seorang PNS, atau bahkan memiliki suami PNS. Katanya sih, PNS itu hidupnya enak, tenang, mapan. Apa iya? Kok aku ngga pernah terbayang sama sekali ya?

Ya iyalah, wong aku nggak punya panutan di keluarga yang berstatus PNS, ya jelas nggak tau😀 Bapak itu seorang akuntan swasta, nggak pernah denger Bapak membicarakan secuil pun tentang pemerintahan Indonesia. Oh ya, pernah deh, akhir-akhir ini karena kasus korupsi daging sapi yang amat sangat relevant dengan produk utama perusahaan Bapak. Tapi selebihnya, nggak pernah lagi tuh. Keluarga besar Bapak dan Ibu yang lain pun, nggak ada tuh yang bekerja full-time khusus untuk mengabdi pada negara.

Seingetku cuma Eyang Kakung (Kakek dari Bapak) aja yang terkenal dengan hidup berstatus sebagai PNS. Eyang bekerja di Kemenlu (dulu: Deplu–Departemen Luar Negeri), makanya kata Ibu dulu Bapak waktu SMA sempat nggak bisa berbahasa Indonesia karena sering ikut Eyang pindah-pindah negara. Baru SMA dan setelahnya aja Bapak pindah ke Jakarta, saking seringnya Eyang pindah-pindah tempat tinggal, jadi anak-anak yang udah gede ditinggal di Jakarta–supaya nggak repot ngurus sekolahnya–sedangkan anak-anak Eyang yang masih kecil ikut Eyang melanglang buana lintas negara.

Tapi karena Eyang ‘kung udah meninggal sejak aku kelas 2 SD, aku nggak begitu tau cerita detilnya dan bagaimana rasanya sering berpindah-pindah tempat tinggal seperti itu. Berhubung Bapak juga bukan orang yang ceritaan, aku cuma bisa mengagumi gambar-gambar Bapak dan keluarganya di waktu muda yang berlatar belakang luar negeri itu.

Aku pribadi, dari kecil nggak begitu sering mengalami kepindahan. Sekolah, pergaulan, dan permainanku di tempat itu-itu aja. Semampu daya otakku mengingat–aku pindah ke Perumahan Bintaro Jaya itu saat umur 4 tahun, rumah tetap pertama Bapak di Sektor 5. Dekat dengan STAN, seberangnya, Jalan Perkici 9🙂 Kemudian 6-7 tahun kemudian Bapak alhamdulillah diberikan rezeki untuk memiliki rumah di Sektor 3A -masih Bintaro Jaya-sampai sekarang. Hihi. Sekolahku juga seputaran Bintaro dan Kebayoran aja. Baru 5 tahun belakangan ini, aku mencari pengalaman tinggal di Depok seorang diri. Tapi tetap sih, balik-baliknya (dua minggu sekali, ke Bintaro juga hehehe).

See? Aku memang terbiasa untuk bertempat tinggal menetap. Pindah-pindah yang sering kurasakan adalah, pindah kosan. Sedangkan sekarang, aku sudah berstatus menjadi istri seorang PNS lulusan STAN, yang nggak boleh nggak asing dengan kata mutasi, alias hidup ber-nomaden ria. Nah lho, jauh berbeda kan sama sistem hidupku selama ini? Nah lho, nah lho.

Hihihi. Belum begitu merasakan pindah-pindah tempat tinggal ini sih. Karena tempat tinggal ku sekarang kan jatuhnya masih temporary. Sementara. Kosan? Ya rumah milik orang lain kan? yang kubayar tiap bulannya untuk aku tumpangi. Waktu ada Mas Akib di Jakarta sebenernya udah jadi nomaden juga sih ya. Pas Mas Akib magang di BPKP Pusat kita sempat ngekos berdua di Rawamangun, Jakarta Timur; kemudian pindah ke Gang Pinang, Margonda, Depok; sebelum akhirnya Mas Akib ditugaskan di BPKP Perwakilan Bangka Belitung.

Rasanya gimana tuh pindah-pindah walaupun masih Jakarta-Depok-Tangerang aja?
Wiih, hihi lumayan sih. Lumayan capek pindahannya, dan biayanya. Secara nggak sadar, jauh lebih banyak biaya yang dikeluarkan saat berpindah-pindah bukan, dibandingkan menetap di suatu kota dalam jangka waktu yang puannjaang.

Naah, sekarang ini nih. Setelah lulus ini mau ikut bernomaden ria bersama Mas, atau tetap LDR. Jujur, masih dilema. Tapi nggak depresi juga sih, seperti komentar si adik ipar, hehe. Walaupun sungguh berat rasanya saat awal-awal Mas Akib berangkat ke Pangkalpinang, kemudian kembali pulang ke Jakarta dalam waktu singkat dan akhirnya kembali lagi ke Bangka; tetapi toh lama-lama terbiasa juga. Yaaahh… nggak bohong sih kalau kadang–satu dua kali tiap minggu–menitikkan air mata merindukan suami di pelukanku semata —-> eh sok puitis hahaha.

Tapi yaah, selama ini sih bisa kuatasi.
Yang jelas, walaupun aku ini nggak punya pengalaman berpindah-pindah seperti layaknya sebuah keluarga PNS yang sering bermutasi; walaupun zona nyamanku selama ini di sekitaran Jakarta-Tangerang-Depok aja; aku, sejak bersedia diajak menikah, sepenuhnya sudah menerima konsekuensi sebagai istri seorang Mas Akib.

Mau nomaden, long-distance-relationship, atau apalah itu namanya.. aku insyaAlloh siap menjalaninya. Bagaimanapun, inilah takdirku, inilah qodar yang ditulis Alloh ratusan ribu tahun yang lalu. So, please, if u don’t know anything about me and my feeling, don’t judge me like u know everything. Disini, aku bertahan, berjuang menghadapi kenyataan. Disini, aku sedang membuktikan jawaban “Siap” ku, pada pertanyaan Ibu dan Bapak saat Mas Akib datang ke rumah untuk meminang,
“Gimana Mit, kamu siap kan sama Akib?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s