Cerita Ibu

Kesetaraan dalam Pacaran


Hola! Sudah lama tak melihat aku bercerita ya? *menunduk* Maafkan saya yang sedang sibuk berrumah tangga ini ya >_< hihihi

Yah.. Memang, beberapa bulan ini, aku lagi -entah kenapa- nggak mood untuk menulis / mengungkapkan seluruh uneg-uneg di hati. Baik di jejaring sosial di Twitter (apalagi Facebook), maupun di blog. Somehow my brain was just empty when i wanted to compose new tweet or story. Bukan artinya aku menjauhi Twitter ya, tapi yang aku lakukan hanya memantau timeline. Hehehe. I’ve been stalking some people and it turned out i found something interest!
Ada hal yang menarik sekali perhatianku. Yap. Tentang kebiasaan pacaran anak zaman sekarang.

Sungguh, ini menarik.

Selama enam bulan aku menikah, sudah beratus-ratus kali (lebay :p) aku mendapat dalil / nasehat tentang, betapa pentingnya seorang istri untuk patuh, taat, hormat, dan ‘tunduk’ kepada suami. Ada hadist juga yang mengatakan, jika istri ingin masuk surga cukup sholat tepat waktu, kerjakan puasa di bulan Romadhon, keluarkan zakat… dan taat pada suami!

Terlihat cukup mudah kan? Tapi, coba deh diperhatikan lagi hadist di atas. Seperti yang kita ketahui, sholat, puasa dan zakat itu Rukun Islam kan? Penting kan? Wajib kan? Wajib lho ya, bukan Mubah atau Sunnah. Kita semua tau itu, bukan?
Tapi ada ‘taat pada suami’ di belakang rukun islam pada hadist tersebut. It means, ‘taat pada suami’ itu memiliki kedudukan yang sama dengan butir rukun islam lainnya, yang WAJIB dikerjakan oleh setiap istri –yang jika tidak dikerjakan…. lagi-lagi kita tau, apa imbalannya? ya, N e r a k a.

Merujuk pada judul entri di atas, mungkin jadi menyerempet juga ya dengan isu Kesetaraan Gender yang sudah amat sangat meluas dan berkembang pada zaman ini. Betapa perempuan ingin sekali disamaratakan dengan lelaki. Padahal, jelas-jelas berbeda dalam segala hal.
Oke, memang menurut Allah SWT perempuan dan lelaki adalah sama (sama-sama manusia), yang membedakannya adalah amalannya.
Tapi… Kalau kita belajar agama lebih lanjut, disanalah kita akan tau, mengapa lelaki dan perempuan itu dibuat berbeda. Mereka dibuat bukannya tidak ada tujuan, tapi keduanya mengemban tanggung jawab berbeda yang sama besarnya! Apakah itu? Yuk, sama-sama belajar di Quran dan Hadist yuk!🙂

Nah, topik menarik tulisanku kali ini, bermula dari keinginan perempuan yang menyamaratakan tingkatnya dengan lelaki tersebut. Dan kesamarataannya itu terlihat sekali pada hubungan-percintaan-tanpa-nikah-yang-jelas-jelas-tidak-halal alias pacaran.

Apakah itu bagus? Apakah dengan kesamarataan itu kedua belah pihak merasa diuntungkan?

Hmm……. kelihatannya sih -selama proses pemantauan timeline– enggak sama sekali deh.
Ada pihak yang dirugikan, BANGET. Tapi mungkin mereka yang merasakannya nggak mau mengakui ya..

Aku paparkan hasil temuanku aja ya, dan fenomena yang terjadi pada umumnya.

1. Setara = Sebanding = Setingkat. Itulah pacaran. Lelakinya senang, perempuan sama senangnya. Lelakinya ngambek, perempuan juga ikutan ngambek dong. Lelakinya mengumpat kesal, ya perempuan boleh sama-sama mengumpat kesal.
Nggak ada rasa hormat dari si perempuan kepada si lelaki. Ya iyalah, wong nggak ada hukum agama yang bilang ‘harus taat pacar’ kan? Nggak ada ganjaran neraka untuk seorang pacar yang durhaka sama pacarnya kan? Ya Alloh, untuk apa juga gitu kan, taat sama pacarnya yang minta duit masih sama orang tua-nya? Wkwkwk :p

2. Umumnya, perempuan lebih mudah mengeluh dan berkomentar tentang apa yang dirasakannya. Walaupun sekarang juga banyak lelaki memiliki kebiasaan seperti itu, tetapi tetap masih lebih banyak perempuan yang melakukannya.

3. Umumnya juga, perempuan lebih mudah merasakan emosi. Lebih sensitif. Sedikit lelakinya cuek, langsung perempuannya pikir yang negatif. Sedikit komentar aneh lelakinya muncul di Twitter, langsung perempuannya merasa tersakiti, bahkan terzalimi.

4. Naaaah… biasanya nih ya, setiap perempuan merasakan sesuatu, tweet-tweet baru bermunculan. Alhamdulillah pas masih baru gitu kan, masih hangaatt, biasanya emot-emot cinta bertebaran di seluruh penghujung timeline. Tapi kalau udah mulai emosi negatifnya yang muncul….. tweet nggak enak deh yang bertebaran di timeline.

5. Perempuan juga punya kecenderungan untuk menjadi pusat perhatian. Dengan kata lain, pihak lelakinya yang terlihat salah.

Jadi jika kita menggabungkan seluruh fenomena di atas, kemungkinan tweet atau status yang muncul seperti ini:

Gila ya! Jelas-jelas gue ada di timeline yang sama!!! Kenapa juga mereka santai ngobrol kayak GITU! Sakit tau! Sakiitt :””(((( Kenapa cowok gue ganjen banget sih?!

(Pacarnya dibilang ganjen? Orang se-timeline bisa ngeliat? Temen-temennya lho ituuu yang di timeline! Gimana orang nggak penasaran? Gimana orang-orang nggak men-judge si cowoknya jelek? Padahal, mungkin aja si cowok melakukan itu karena memang keharusan… nggak ada sifat understanding yang dimiliki si cewek. Nggak ada sifat sabar di antara keduanya…)

Ya Alloh, naudzubillahimindzalik. Kalau sifat seperti ini yang diteruskan, bagaimana di pernikahan nanti? Padahal suami butuh dukungan istri yang menguatkannya di segala macam kejadian -seperti Khadijah-, suami butuh istri yang sabar yang tenang yang mengerti kondisi suaminya sepenuhnya -seperti Hajar.

Aku prihatin dan kasihan sebenernya pada lelaki. Semakin lama, semakin rendah kedudukannya di mata perempuan. Guys, please buka mata lagi… demi generasi penerus perubahan zaman yang lebih baik lagi. Masih banyak perempuan yang akan memuliakanmu di tempat yang halal nanti. Percaya deh, tinggalin pacarannya, sekarang fokus sama cita-cita. Dijamin hidupmu bakal lebih baik.
Insya Alloh. Percaya sama Alloh.

4 thoughts on “Kesetaraan dalam Pacaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s