Uncategorized

Upgrade Rasa Syukur & Sabar (Part 1)


Sudah empat bulan looooohhh…. Waaaah Alhamdulillah banget, sampai detik ini Alloh masih memberi banyak kenikmatan yang menyertai gue dan suami😀 Hehehe. Walaupun begitu, tetep aja sih, di empat bulan ini banyak naik-turunnya juga.. banyak suka dan dukanya juga dalam menghadapi perbedaan-perbedaan karakter antara aku dan si mas.. padahal baru empat bulan loh.
Tapi jujur, ada saatnya gue depresi banget… (lebay.com) hmm, kadang suka kecewa sama diri sendiri juga… sampai-sampai lupa atas nikmat-nikmat yg sudah Alloh beri. Lupa harus bersabar dan bersyukur. Mikirnya pas sebelum nikah aja… Padahal kan… tantangan setelah dan sebelum nikah itu ya berbeda dong, ya kan?
Kalau dalam games itu bisa disebut… level kehidupan setelah menikah ini kan jauh lebih tinggi daripada sebelum menikah. Ya kok senjatanya masih level rendah? Harusnya di-upgrade dong.. biar useful. Ya kaan?
Naaah, berhubungan dengan upgrade-mengupgrade, gue mau share cerita penuh makna ini. Dikutip dari buku karya Asma Nadia yang  berjudul “Sakinah Bersamamu“, cerita yang berjudul sama ini amat sangat menyentuh dan mengena di hati gue. Oke, Selamat menikmati🙂

***

SAKINAH BERSAMAMU

Cintakah yang membuatku betah berlama-lama memandangi wajahmu yang lelap? Dua puluh lima tahun, sayang… dan tak sekali pun aku merasa bosan menatapmu, laki-laki pertama yang berani meminangku.

Seperti saat ini. Kau terbaring dengan mata terpejam, lebih dalam dari biasa. Sama sekali tak terusik oleh pandanganku yang begitu lama tak beralih darimu. Tak juga terganggu oleh elusan tanganku di pipi dan dahimu. Atau oleh suara keriuhan sekitar kita.

Dan seperti yang sudah-sudah setiap kali memandangmu tertidur, bayang-bayang kebersamaan kita begitu saja terpampang di pelupuk. Berkejaran. Takdir telah mempertemukan kita, dua orang yang tidak sempurna, hingga sampai ke pelaminan. Ketika aku mulai cemas tak akan ada laki-laki yang berani mendekati, apalagi melamarku.

“Makanya jangan pasang muka galak, Ri!” celutuk Ratasya, sahabat baikku yang sudah seperti saudara kandung itu, dengan mimik lucu. Galak? Iya, kah? Tapi Mitha yang dua puluh kali lipat lebih sangar dariku, sudah setahun lalu dipinang lelaki Jawa, dari fakultas lain.

“Mungkin kau terlalu pemilih!” Kali ini suara Mitha. Apakah dia mendengar kalimat pendek yang terbersit di batinku? Pemilih? Pikiran ini nyaris membuatku tergelak-gelak. Imajinasiku membayangkan adegan puluhan tangan sibuk memilih pakaian yang sedang sale di Department Store. Allah… bagaiman bisa membuat pilihan ketika tak satu pun laki-lalki terlihat mengambil ancang-ancang mendekatiku?

Sementara Raja, satu-satunya makhluk lawan jenis yang dekat denganku sejak di bangku pertama kuliah, memberi jawaban lain. Simpel saja, “Kau terlalu perkasa bagi laki-laki, Ri!”

Ah, jika saja dosen sosiologi kami tak keburu datang, pasti sudah kudebat dia untuk mendefinisikan arti kata ‘perkasa’ di sini. Apakah perkasa itu karena aku mengendarai motor gede ke kampus? Apakah kata itu dilekatkan karena kebiasaanku menggunakan celana panjang dengan banyak saku? Atau karena cara bicaraku yang terus terang dan tidak kemayu? Atau… karena aku tidak perlu meminta tolong apa pun kepada teman-teman pria di kampus. untuk hal-hal yang masih bisa kukerjakan?

Galak, pemilih, dan perkasa. Tiga kata itu membuatku mereka-reka akhir kisah cintaku yang tak pernah dimulai. Padahal kata orang-orang wajahku tak jelek. Bahkan menurut Raja, aku jauh lebih menarik dari tikus-tikus yang terjebak lem di kamar kos-nya. Bah!

Syukurlah Allah Mahabaik padaku. Beberapa bulan menjelang wisuda, Dia mempertemukan aku denganmu, lebih tepatnya menurunkanmu dari metromini yang menyerempet motor dan dengan sukses membuatku oleng dan terjatuh.

Zaqi…,” katamu dengan senyum yang sulit kuartikan. Sepasang matamu yang tajam sibuk melihat sekeliling, seakan obyek di hadapanmu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Mendadak aku ingat komentar Raja tentang ‘kegagahanku’, dan hal itu sempat membuatku lemas tanpa alasan.

Tetapi aku salah, hari-hari berikutnya aku tahu, kau peduli.

Sampai di sini aku kehilangan jejak lamunan. Sebuah suara dan sentuhan halus menyentuhku.

“Bunda…” Aisyah, putri sulungku bersama beberapa ibu tetangga menghampiri. Reflek kuberikan isyarat telunjuk di bibir seperti biasa jika Ayah mereka sedang tidur. Bang Zaqi tak perlu dibangunkan oleh hal-hal yang tak perlu.

Benarkah?

Aku memandangmu yang masih terbaring. Pemikiran itu membuatku tertegun sejenak. Bertahun-tahun menikah, ada hal-hal yang sudah mendarah daging, termasuk kebiasaan menjaga ketenangan tidurmu. 

Bang Zaqi pekerja keras yang hampir tiap malam tidur larut, kadang sampai pagi. Membuat konsep ini itu, merapikan bagian-bagian rumah yang perlu diperbaiki. Sepertinya lelaki itu tak pernah kekurangan kesibukan. Ada saja yang bisa dikerjakannya.

Pernah suatu malam saat terbangun dan tidak menemukannya di ruang kerja, aku mencari ke sana kemari… dan semakin khawatir ketika tak mendapatkan jawaban. Ketika langkah mendekati dapur, barulah kutemukan wajahnya yang sederhana berdiri kaku di balik pintu, dengan sebuah sapu, “Ssst…,” bisikannya menghentikan langkahku. Melihat ke sekeliling, aku baru menyadari apa yang terjadi. Suamiku terkasih itu sedang memburu tikus kecil yang akhir-akhir ini meresahkan kami. Belakangan tikus itu berhasil kami sudutkan hingga meringkuk di lem tikus.

Hm… memandangi wajah Bang Zaqi yang sedang menatap tikus kecil itu lekat-lekat… aku merasa perlu berdoa. Semoga apa yang di pikiran Raja, teman waktu kuliah dulu, tak hinggap di kepala suamiku. Bagaimana pun meski dimaksudkan sebagai pujian, aku lebih suka dibandingkan dengan artis sinetron, bintang film, atau setidaknya pembawa berita di televisi daripada dengan binatang pengerat yang terlekat lem!

Ah, ya… di rumah ini Bang Zaqi mengurus segalanya. Listrik, air, sampai tikus-tikus yang mengacaukan rumah. Laki-laki itu pula yang menggembok pagar setiap malamnya. Kegagahanku rasanya tak terpakai sama sekali. Lambat laun aku semakin nyaman dengan caranya memanjakanku. Bang Zaqi tidak hanya membuatku merasa seperti perempuan… tetapi perempuan dengan mahkota. Dia meladeniku seperti putri kerajaan. Bahagia… ya, meski kemudian kutahu hidup tak selalu seperti yang diinginkan.

Tahun kesembilan pernikahan, aku sedikit terlambat menangkap perubahan itu. Mungkin karena Bang Zaqi masih lelaki yang sama yang mengurus semuanya dengan sempurna. Yang memanjakanku dan dua putri kami, semampunya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, tanpa bisa kujelaskan. Belakangan aku tahu… lelakiku jatuh cinta.


TO BE CONTINUED……🙂

2 thoughts on “Upgrade Rasa Syukur & Sabar (Part 1)

    1. Aaaa oktaaa sabar yaaaaah abis UAS mau kulanjutin nulis ceritanyaaa hehehehe😀
      Ajkkh sudah blogwalking kesini btw :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s