Uncategorized

Kemunculanmu Kembali


Kamu pulang dari Klaten! Dan kamu sengaja merahasiakannya dariku!
Itu aneh.
Untuk apa pula seorang kamu merahasiakannya dari aku?
Memangnya siapa aku? Siapa kamu?
Kita bukan siapa-siapa saat ini.

Aku ngga akan terlena oleh obrolan seperti yang aku lakukan denganmu. Aku ngga akan terlena oleh siapapun. Apalagi kamu. Tapi, ………..aku butuh kamu!

Aku sama sekali tidak bisa melupakan ekspresimu saat itu. Saat aku bersama dua orang lainnya datang ke Mesjid untuk mendatangi musyawaroh rutin. Hujan rintik. Langit yang mendung menghiasi suasana sore itu.

Jujur. Aku penasaran kamu pulangnya kapan. Kamu beneran pulang nggak sih?
Karena memang hubungan kita sudah jauh agak lebih dekat daripada sebelum kamu ke Klaten itu. Aneh. Sekali lagi aku bilang aneh. Hubungan kita yang tadinya sekadar boss dan anak buah, malah jadi teman seru-seruan. Err, bukan seru-seruan lagi. Kamu! Ya, kamu! Gombalnya… aduuuuuuuuuhh……..

Kamu tau nggak?
Aku lumayan banyak berharap saat kamu becanda-becanda mengenai pernikahan. Ibaratnya aku sudah terbang jauh ke luar angkasa, terus dijatuhin sejatuh2nya saat kamu bilang, “becanda kali Miiit…..

Err…. rasanya pingin jitakin kamuuuu.
Tengil banget sih jadi orang.

Well, untungnya aku juga suka becanda sih. Jadinya komunikasi kita lancar aja gitu kaaan?
Satu. Aku memang suka bercanda.
Dua. Aku sudah nggak mau berharap banyak dari hubungan perempuan dan laki-laki seperti ini.

Berawal dari dunia maya, kemudian muncul harapan-harapan palsu, kemudian yang terluka malah dari pihak perempuannya. Karena sudah terlalu banyak berharap yang engga-engga.

Yah, apapun itu masa laluku. Pokoknya aku sudah bertekad bahwa…….. aku ngga akan terlena oleh obrolan seperti yang aku lakukan denganmu. Aku ngga akan terlena oleh siapapun. Apalagi kamu.

Tapi aku lagi butuh kamu.

Aaargh. Iya, ini agak melanggar tekadku tadi. Tapiii…. aku senang bisa bertukar pikiran lewat pesan singkat kemarin. Ada getaran, entah apa, yang aku nikmati saat kamu mengirimkan pesan padaku. Kamu tengil. Tapi kamu dengan lembutnya selalu menawarkan apa yang bisa dibantu. Ah, iya. Ini tentang sebuah acara besar yang aku tak tau harus ke siapa lagi meminta bantuan. Aku stuck. Aku butuh bimbingan.
Tapi disini, saatnya aku membimbing. Bukan dibimbing seperti dua tahun lalu.
Dan kamu, disana, siap membantu aku.

Aku butuh kamu.
Tapi aku kehilangan kontak denganmu. Setauku kamu akan pulang ke Jakarta minggu depan–eh, entah kapan, yang jelas nggak hari ini. Tetapi… kenapa tiba-tiba kamu ada disini!!? Di Mesjid ini, hari ini, jam ini, menit ini, detik iniii??? Kenapaaa?

Dan kenapa juga, kamu sempat bersembunyi dariku, tapi setelah itu menampakkan wajah super jahil dan senang saat melihatku? Kenapa? Kenapa pula hanya aku yang tak tau bahwa kamu akan hadir disitu?
Kenapa dan kenapa? Terlalu banyak kenapa yang pura-pura aku hiraukan.
Yeah. Aku menghiraukan semua pertanyaan itu–kembali ke tekadku yang kujelaskan sebelumnya.
Tapi satu KENAPA besar muncul kembali ke otakku setelah acara musyawaroh dan pengajiannya selesai.
Setelah sampai rumah, aku kemudian menyadari….

KENAPA MATAKU SELALU MENGIKUTIMU KEMANAPUN KAMU PERGI?

Masihkah aku berpegang teguh pada tekad tadi?
Ah. Aku sama sekali tidak tau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s