Cerita Sebelum Menikah

Sedikit Cerita ku Tentangmu 02


Hatiku masih ketar-ketir tetapi tanganku cepat langsung mengetik pesan singkat kepada N. Aku cerita yang sebenarnya padanya bahwa selama ini aku hanya dapat mengotak-atik foto dengan Adobe Photoshop, software andalan untuk meng-edit foto. Aku merasa lebih jago design dari teman kelasku yang lain, tentu saja aku merasa begitu, wong jurusan ku selama hampir tiga tahun kuliah ini kegiatan sosial kok! Bukannya design. Duh.

Dia memiliki senyum yang seketika dapat menghangatkan hatiku. Tawanya membuat ceria hariku. Aku suka senyumnya. Aku ingin terus menerus melihat senyumnya.

Lagi-lagi aku baru menyadari betapa bodohnya aku, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain tetap maju dan mencari cara bagaimana aku melewati tantangan ini. Oh ya, aku ingat adikku kuliah di jurusan Design!! Siapa tau aku bisa meminta software tersebut padanya. Langsung kuhubungi adikku tersebut, dan ternyata ia malah menyuruhku membelinya di toko. Aaargh. Tidak membantu, pikirku.  Tapi lagi dan lagi, aku berpikir tidak ada salahnya juga untuk membeli. Toh, software ini siapa tahu dapat digunakan lagi ke depannya.

Aku cerita pada tentang kejadian itu sebelum aku membelinya. N berkata dengan entengnya, sudahlah pinjam saja pada dia sekalian saja minta ajarkan. Kemudian kuhubungi dia, dia-yang-namanya-tak perlu-disebut (bukan Voldemort lho ya). Kuceritakan padanya semuanya, dan dia menyanggupi untuk meminjamkan buku serta software tersebut. Aku kagum pada sifatnya yang cepat bergerak. Cepat dalam melihat suatu masalah dan menemukan jalan keluarnya. Dia tahu hal ini harus cepat dilaksanakan, maka itu dia langsung ke rumahku untuk membawa perlengkapan yang diperlukan nantinya.

Hari itu dia ke rumahku. Dia membantuku untuk meng-install Adobe InDesign di PC ku. Dia melakukan semuanya dengan cepat, sempat bingung karena ternyata dia lupa membawa CD  installer-nya. Tetapi kemudian dia punya cara lain untuk mengatasi hal tersebut, inti cerita…. dia meminjamkan laptop-nya padaku karena software tersebut banyak masalahnya. Paling cepat ya dia pinjamkan laptop yang berisi software itu padaku. Secara cepat pun dia mengajarkan bagaimana aku harus menggunakan software itu.

Sempat bercanda dengan adikku juga, dia, malam itu sungguh memesonaku. Ah tidak, itu terlalu berlebihan. Tapi aku cukup terpesona. Tidak, tidak. Aku hanya….. ah, iya, oke, aku…. *menghembuskan napas dalam-dalam* terpesona.

Tapi saat itu bukan saat yang tepat untuk melanjutkan keterpesonaanku. Hatiku kembali ketar-ketir mengingat deadline mendekat.

Harinya deadline berlangsung, semua anggota redaksi sudah mengirimkan artikelnya masing-masing. Ketua redaksi pun sudah mengirimkan pesan singkat untuk ku agar segera menyelesaikan tugas layoutting itu. Kukumpulkan berbagai macam gambar yang sekiranya kuperlukan saat mengerjakan nanti. Sudah siap kukerjakan, ternyata oh ternyata, laptop dia yang kupinjam error. Adobe apapun di laptopnya tak bisa kugunakan. Bukan ketar-ketir lagi, mood-ku seketika langsung berubah. Apa yang harus kulakukan sekaraaaaaaaaannnnggg?

Cerita pada N? Atau cerita pada dia?

Tidak, tidak. Itu bukan aku banget. Aku merasa tidak enak. Karena mereka sudah banyak membantuku sebelumnya, dan sekarang harus kurepotkan lagi oleh masalah yang kubuat sendiri ini? Aku tidak mau. Aku merasa aku masih dapat melakukan sesuatu. Aku ingin seperti dia yang bergerak cepat dalam mengatasi masalah. Aku yakin aku bisa.

Dan alhasil aku bisa. Alhamdulillah. Senyumku terkembang begitu lebarnya begitu aku dapat kembali menjalankan Adobe InDesign-nya kembali. Bisa sih, tapi aku harus rela mengorbankan malamku itu untuk menyelesaikan kerjaanku. Ya, aku begadang. Sendirian. Sampai pagi aku jabani karena pekerjaan itu sangat menyenangkan. Aku merasa ini keahlianku, karena aku suka mengatur warna, huruf dan tata letak sehingga semuanya terlihat indah dan rapih.

Tak terasa jam satu pagi aku masih terjaga. Tiba-tiba ponselku bergetar dan layarnya menunjukkan adanya satu pesan masuk. Dia. Dia mengirimkan pesan kepadaku jam satu pagi.

Gimana kerjaannya? Lancar kan?

Terlihat biasa saja ya? tetapi aku cukup tersentuh. Haha. Aku tau aku memang berlebihan tentangnya. Tapi beginilah aku. Kamu mau marah? Ya nggak kan? Ini kan ceritaku. Hahaha. Cukup, cukup. Kujawab pesannya dengan segera.

Lancar, alhamdulillah :D”

Tak kusangka, dia kaget karena aku masih terjaga. Dan kamu tahu apa yang dia lakukan berikutnya? Dia menemaniku sampai aku selesai mengerjakan layoutting tersebut. Aku tersenyum bahagia dalam tidurku. Tidurku nyenyak sekali saat itu.

Beberapa hari kemudian setelah pekerjaan ku selesai. Saat aku mengembalikan laptopnya. Dia mengambilnya saat aku sedang menghabiskan weekend bersama keluarga di Mall dekat dengan rumah. Dia menyapa keluargaku begitu sopannya. Sempat bercanda juga, dan reaksi keluargaku sangat baik. Pesan singkat yang dia kirimkan setelah itupun, aku ingat, membuat senyumku terus terkembang. Dan… kata-kata Ibu saat itu. Hanya bisa aku aminin saja. Ha ha ha.

Selesai dari pekerjaan itu ternyata ada permintaan lagi dari N untukku untuk membantunya membuat poster sebuah acara dengan melukis di sebuah kain kanvas besar. Permintaan tersebut lagi-lagi kusanggupi karena berhubungan dengan passion ku di bidang desain. Akhirnya aku mengerjakan hal tersebut bersama panitia acara dan Sani. Dan acara itu ternyata melibatkan dia juga. Malam itu kami menghias kanvas super besar dengan sangat menyenangkan. Corat sana, coret sini, tawa canda kami malam itu akan selalu kuingat. Satu hal yang-akhirnya-benar-benar membekas dalam hati serta otakku adalah…. senyumnya.

Dia memiliki senyum yang seketika dapat menghangatkan hatiku. Tawanya membuat ceria hariku. Aku suka senyumnya. Aku ingin terus menerus melihat senyumnya. Saat dia tidak di dekatku, aku mencari-cari kehadirannya. Begitu kutemukan dia sedang tersenyum dan bercanda dengan yang lainnya, aku pun ikut tersenyum dan semangatku terkumpul untuk segera menyelesaikan lukisan di poster itu. Berkali-kali aku melakukan hal itu, aku merasa seperti anak SD yang baru saja merasakan jatuh cinta.

Cinta? Apakah ini cinta? Secepat inikah aku merasa cinta?

Aku rasa tidak. Tapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini terus terngiang-ngiang dalam otakku selama beberapa minggu. Aku tidak percaya hanya dengan senyuman dan kehadirannya yang hanya seperti ‘itu’ dapat membuatku jatuh cinta. Sampai detik ini pun aku meragukan perasaan tersebut. Walaupun aku sama sekali tidak akan bohong kepadamu bahwa begitu aku tahu ada kehadirannya di dekatku, tenggorokan ku tercekat, hatiku tidak mau tenang. Tambah lagi mata ini yang tidak mau lepas darinya sungguh membuatku heran. Apa, apa dan apakah perasaan ini?

Aku ingin kenal lebih jauh dengannya. Aku ingin tertawa lagi bersamanya. Tapi aku sadar kesempatan sudah habis. Sudah waktunya dia pergi ke Klaten untuk menjalankan PKL. Selama sebulan dia akan berada disana, dan entahlah aku tidak tahu apakah dia kembali lagi kesini atau pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah sana. Aku sedikit menyesal sebenarnya, karena sebelum dia pergi untuk PKL ini sudah lewat beberapa bulan dan aku tidak memakai kesempatan emas itu untuk mendekatkan diri dengannya lagi.

Aku ingin kenal dengannya. Tapi apalah daya ini… aku masih tak sanggup untuk terluka lagi seperti dahulu. Aku masih belum siap terluka jika aku mengenalmu lebih jauh. Dan mungkin itulah jawaban dari semua pertanyaanku sebelumnya. Aku suka padanya, tapi aku belum siap untuk jatuh cinta. Karena jika kita sudah berani jatuh cinta, seharusnya kita sudah siap untuk terluka. Itu konsekuensi dari jatuh cinta.

Dan inilah akhir ceritaku tentangnya. Memang sedikit sekali ya cerita ini, tetapi buatku ini cukup meninggalkan kesan yang mendalam. Mungkin aku menyesali tindakanku yang terlalu takut untuk mengenalinya lebih jauh, tapi aku sama sekali tidak menyesali pertemuan aku dan dia. Di dalam situasi dan kondisi apa pun, aku bertekad untuk terus memosisikan diri dalam keadaan bersyukur. Ya, aku bersyukur bertemu dan berkenalan dengannya. Aku yakin suatu saat aku akan mengerti apa hikmah dari semua ini. Sampai saat itu, aku akan selalu mendoakan kesuksesannya dimanapun dia berada.

Demikian sedikit ceritaku tentangmu, Akib…🙂

~M

***

(Jika terjadi kebetulan nama dan tempat, itu benar2 tidak disengaja ya. Kecuali yang sangat sangat terakhir :p)


2 thoughts on “Sedikit Cerita ku Tentangmu 02

    1. Eeeeeh ufaaaaa… kesini juga kaaau?? hahaha akyu maluu xD

      majikku tango (baca: majikku tang-go) itu bahasa jepangnya Magic Words faa hehe, blog iseng-iseng aja nih, sekalian belajar merangkai kata layaknya novelis gitu deh ^____^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s