Cerita Sebelum Menikah

Sedikit Cerita ku Tentangmu 01


Dia…. kecil. Tetapi senyumnya begitu menawan. Perkenalan pertama dengannya memang tidak meninggalkan bekas mendalam… eh apa itu bisa disebut perkenalan ya? Tidak. Itu bukan perkenalan. Aku tidak mengenalnya saat itu. Aku hanya tahu dia yang namanya “itu” karena temanku. Teman yang kebetulan menjadi tambatan hatinya saat itu. Dia saat itu… masih kecil.

Aku tahu mereka bersama dia. Tapi aku sama sekali tidak berkenalan dengannya. Entah kenapa. Semua terjadi begitu cepat.

Bukan. Maksudku… bukan umurnya yang kecil, tapi badannya yang kecil. Dia hitam dan kurus. Waktu itu aku tidak terlalu memperhatikannya. Bukan apa-apa, tapi memang karena tidak ada satu hal spesial pun darinya yang perlu otakku ingat. Aku hanya ingat dia datang ke acara kami bertiga, dua temannya merupakan teman lamaku. Karena hanya dua orang yang kukenal, tentu saja aku hanya menyapa mereka. Tambatan hatinya, atau dapat dipanggil F, teman lamaku yang sangat suka menceritakan kisah cintanya kepadaku itu, datang dengan senyuman. Senyumnya dengan mudah terkembang, begitu pun dengan ceritanya tentang laki-laki yang saat itu sudah memutuskan hubungan dengannya. Ia tersenyum, tapi kutahu di dalam hatinya Ia terluka.

F masih sangat menyayangi lelaki itu, dan Ia berharap suatu saat dapat menjalin suatu hubungan yang hanya sekali seumur hidup Ia rasakan. Tetapi Tuhan berkata lain. Lelaki itu memilih untuk mengakhiri hubungannya dan menjalin hubungan dengan wanita lain. F sakit. Tapi Ia tetap tersenyum dan berusaha untuk move on. Tunggu, kenapa aku jadi bercerita tentang F ya?

Hmm… singkat cerita, F datang ke acara ku waktu itu bersama dia dan teman dekatnya yang lain, N namanya. Karena sudah lama juga aku tidak bertemu dengan mereka, kami bercakap-cakap sebentar. Aku bilang sebentar itu benar-benar sebentar ya. Aku tahu F dan N bersamanya. Tapi aku sama sekali tidak berkenalan dengannya. Entah kenapa. Semua terjadi begitu cepat. Dia pun juga hanya sekelebatan di sekitarku. Benar-benar tidak ada yang menarik tentang dia saat itu.

Sejak itu aku tak pernah ingat tentang kehadirannya lagi, sampai suatu hari aku harus meninggalkan tempat jujugan ku selama dua tahun untuk kuliah. Ya, hari itu aku harus pindah dan meninggalkan semua kenangan indah-sekaligus menyakitkan itu. Sekarang saatnya kubuka lembaran baru di rumah. Tempat tinggal ku yang sebenar-benarnya. Sedih sudah pasti kurasa, tapi inilah jalan yang harus kuambil. Aku berniat untuk melupakan cerita lamaku. Aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang jauh dan jauh lebih baik. Orang baru lainnya yang dapat memberikanku berbagai macam pengalaman sehingga menjadikan hidupku begitu berwarna.

Hari demi hari kujalani, tak terasa sudah tiga bulan sejak aku meninggalkan tempat jujuganku kemarin. Waktuku untuk memperoleh pengalaman hidup sebagai pekerja juga sudah habis. Kini waktunya aku untuk memulai lagi kehidupanku sebagai mahasiswa. Masih tersisa sedikit kenangan tentang cerita lamaku itu. Kangen. Aku kangen sekali padanya. Tapi tak ada yang bisa kulakukan juga jika aku diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Sudahlah, pikirku saat itu. Hidupku kini lebih menantang, kumantapkan hatiku dan kukuatkan lagi diriku terus-menerus.

***

Hari itu, aku diminta untuk menjadi salah satu redaksi sebuah buletin. Sebuah pengalaman baru bagiku. Tak pelak lagi langsung kusanggupi permintaan itu. Walaupun aku sama sekali tidak tahu saat itu bahwa sebenarnya kemampuan yang diminta itu belum aku kuasai. Hari-hari berlanjut sampai akhirnya tim redaksi dari buletin itu mengadakan pertemuan untuk membahas buletin edisi bulan berikutnya. Kami melakukan pertemuan di rumah sang ketua redaksi. Satu demi satu anggota redaksi pun berdatangan. N, teman F waktu itu sudah datang. Oh ya, yang memintaku untuk menjadi salah satu anggota redaksi adalah N. N dua tahun dibawahku. Ia orang yang bersemangat. Aku berpikir akan menjadi sangat menyenangkan bergabung di redaksi ini bersamanya.

Sampai akhirnya dia pun datang. Dia! Dia bukan cerita lamaku ya, dia yang tadi di awal cerita itu lho. Dia ternyata anggota redaksi ini juga. Kaget sih, tapi seharusnya aku tidak perlu kaget lagi karena aku sudah melihat namanya di jejeran anggota redaksi buletin sudah dari lama. Hanya ya tadi itu, tidak menarik otakku untuk susah payah mengingatnya.

Pertemuan redaksi yang pertama itu berjalan lancar-lancar saja. Dan tugasku ternyata me-layout buletin tersebut. Di satu sisi, aku bernapas lega karena tugasku bukanlah membuat artikel–yang dalam tiga hari saja sudah harus selesai. Tapi di sisi lain, hatiku berasa dikejar-kejar setan, karena aku harus me-layout buletin memakai salah satu software andalannya me-layout majalah dan lainnya. Hal ini baru kusadari esok harinya. Aku belum pernah sekalipun memakai software itu, bahkan aku tidak punya! Deadline layout buletin itu harus jadi adalah dua hari dari hari aku menyadarinya. Hatiku ketar-ketir.

Dimana aku harus mendapatkan software itu?

Dengan siapa dan bagaimana aku belajar cepat?

Dan bagaimana aku dapat menyelesaikan tantangan super berat itu????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s